Forum Bersama Masyarakat Toba
*
Welcome, Guest. Please login or register. May 21, 2012, 07:46:53 PM


Login with username, password and session length


Komunitas dongan batak
Pages: [1]
Print
Author Topic: MAU KEMANA TOBA SAMOSIR  (Read 2780 times)
Pujakesuma
Newbie
*
Posts: 1


View Profile
« on: August 29, 2008, 09:10:15 PM »

Judul yang saya angkat tersebut berdasarkan keprihatinan kami selaku warga Tobasa tentang perkembangan yang erjadi akhir-akhir ini. Geliat pembentukan propinsi Tapanuli yang gencar dicanangkan pada akhirnya memecah kesatuan Tanah batak terkhusus Toba Samosir. Mengapa ini saya katakan...

Melihat dari awal pemekaran Kabupaten tapanuli yang cukup luas menjadi 2 bagian yaitu Tapanuli Utara dan Toba Samosir pada Tahun 1999. Belum berapa lama Toba Samosir berdiri, nun diseberang pulau berkumandang angin pemekaran kabupaten baru yaitu Kabupaten Samosir yang kini telah menjadi kabupaten definitif. berselang beberapa lama kemudian Humbang Hasundutan juga memisahkan diri dari Kabupaten Tapanuli Utara.
Cepatnya kabupaten yang bermekaran ini merupakan suatu skenario untuk melepaskan Tapanuli dari cengkraman (menurut istilah) Sumatera Utara dan membuat provinsi baru.

Apakah Tapanuli sudah siap...

Tapanuli dewasa ini masyarakatnya sudah multi etnis, agama dan kebudayaan walaupun jumlahnya masih kecil. Tetapi apakah yang kecil ini juga harus dikesampingkan? kalau iya berarti orang batak itu mau menang sendiri dan menunjukkan ego yang luar biasa.
Kenapa saya katakan demikian.
Kalau kita melihat daerah lain, contoh terdekat di beberapa kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara, pejabat yang ada di Pemerintahan pasti menampung/ mengakomodasikan jabatan bagi warga batak, atau kalu kita melihat daerah yang mayoritas muslim, pasti ada pejabat yang deragama kristen. tetapi di Toba Samosir apakah itu ada...
Apakah upaya Bupati Toba Samosir yaitu menjadi daerah yang religius  sudah sesuai dengan kenyataan dan sudah dijunjung tinggi sedangkan kegiatan yang bertaraf event nasional seperti MTQ tingkat kabupate Toba Samosir, bupati sendiri enggan menghadirinya, dan masih banyak lagi kegiatan dari etnis minoritas di Toba Samosir ini dikesampingkan (tak perlulah saya ungkapkan satu persatu).
Selain dari pada itu, upaya pembentukan Provinsi tapanuli yang dari semula didengungkan adalah akibat kurang perhatiannya pembangunan di Tapanuli ini oleh pemerintah Sumatera Utara apakah memang benar adanya.
Kondisi pada saat ini kalu bolehlah kami mengulas sedikit ada beberapa point yang harus menjadi renungan :
1. Sejauh mana kesiapan pemerintah daerah yang ada di daerah Toba ini menerima masuknya etnis lain yang tidak mempunyai marga, tidak sama keyakinan dan tidak sama kebudayaan untuk duduk satu meja di dalam pemerintahan.
2. Kesiapan para pelaku bisnis pembangunan untuk berbuat profesional terhadap pekerjaan (proyek) yang diterimanya, sehingga akan mengubah pandangan masyarakat bahwa pembangunan di daerah tapanuli dikerjakan asal jadi dan ini disengaja oleh Pemerintah Sumatera Utara.
3. Pakah Tpanauli ini ingin dijadikan Provinsi Kristen......

Mungkin ini Topik sampai dengan hari ini, jangan kita mendukung suatu keinginan pihak/kelompok tertentu tetapi mengabaikan bentuk toleransi bermasyarakat dan beragama yang selama ini begitu sejuk dan damai yang kami rasakan selama ini selam tinggal di tanah toba.
Logged
bonatua
Guest
« Reply #1 on: August 30, 2008, 04:40:25 AM »

Seperti yang dikatakan Bupati Toba Samosir st Drs Monang Sitorus SH MBA, Toba Samosir akan dibawah menujuh Tobamas 2010, yakni Kabupaten yang Religius. Kemudian Toba Samosir akan dibangun dari sektor Parawisata, Pertanian, Pendidikan dan Kesehatan.

Jadi saudarahku Pujakusuma, Saya  Putra Toba Samosir yang berada diperantauan, menyikapi atas ketidak hadiran  Bupati Tobasa  pada acarai MTQ tersebut seperti tulisan "Mau kemana Tobasamosir", bisa saja Bupati sibuk Cool.

 
Logged
sura
Newbie
*
Posts: 18


View Profile
« Reply #2 on: August 30, 2008, 01:56:23 PM »

Sebenarnya penuturan Mas Pujakesuma diatas bagus, kategori bagus untuk waga yang desperate dengan kehadiran mereka yang tidak dianggap di Toba Smiley Baiknya berkaca dahulu, berapa persen Pujakesuma di Tobasa sehingga anda menuntut perhatian lebih? Kami orang2 asli Toba dan Batak menerima anda sebagai "pendatang," dan sebagai "pendatang" anda harus mau menerima apa sesajian yang diberikan "tuan rumah."
Orang melayu bilang, "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung!" Intinya cuma satu, yaitu tahu diri!
Seperti yang sudah saya tulis bahwa bangso Batak tetap welcome siapa saja yang datang ke Tano Batak, tapi harus tetap menghargai eksistensi moral dan sosio kutural Batak

Sama seperti kami, kaum minoritas di negara ini karena kami Batak dan Kristen (kalo bang Jephman bilang dalam kartunnya, sudah Batak, Kristen pulak!) yang tahu diri!. Kami tahu diri bahwa kami adalah bagian dari masyarakat yang ter "marjinal" kan dari kehidupan sosial masyarakat secara global di negara ini karena kami adalah Batak dan Kristen. Dan ke "tahu diri" an kami itu senantiasa kami pegang ketika berada di perantauan, walopun terkadang dengan karena keberaniannya serta kecerdasan dan perhitungan orang Batak mampu memegang posisi penting di luar Batak, tapi tetap tahu diri!

Terimakasih Mas Pujakesuma mau mengangkat topik Propinsi Tapanuli ini walopun sebenarnya bukan kapasitas anda mempersoalkan sesuatu yang menyangkut harkat hidup dan kelangsungan bangso Batak! Ketika anda mempermasalahkan agama dalam wacana pembentukan propinsi Tapanuli, itu berarti cara berpikir anda terlalu sempit. Mungkin anda belum tahu bahwa sampai saat ini sudah 33 kabupaten di Indonesia ini yang memakai syariat Islam sebagai hukum positif dalam Perda mereka. Lalu bagaimana nasib non Muslim di 33 kabupaten tersebut? Wallahuallam...
Apakah anda sudah pernah mendengar bahwa sudah banyak institusi pendidikan dan pemerintahan yang meng "haram" kan Kristen masuk dalam sistem? Padahal institusi yang dimaksud bersifat nasional. Jangankan institusi, kos2an aja sering bertuliskan "Kos Putra, menerima  khusus Muslim," tapi itu hak mereka!

Kembali ke masalah pembentukan Propinsi Tapanuli, buat bangso Batak ada baiknya jangan kita terjebak dalam pemikiran besifat primordialis seperti Mas Pujakesuma diatas. Jika kita ingin propinsi Tapanuli betul2 terbentuk, ada baiknya kita perkuat lagi basis dukungan dari masyarakat. Jangan kita gunakan isu dan event pemekaran Propinsi ini menjadi ajang tarik menarik kepentingan dan hanya ingin berbagi kue kekuasaan, tapi tetaplah berpikir untuk kesejahteraan rakyat Toba sendiri.
Tapanuli utara jangan lagi masuk dalam peta kemiskinan, daerah2 yang sulit terjangkau transportasi dan pembangunan di sekitar Tao Toba harus kita perjuangkan. Semua pro kontra dalam pembentukan propinsi ini harus kita terima dengan lapang dada dan mnecoba ntuk tetap  berpikir positif untuk memajukan daerah kita dan Marsipature Hutanabe

Yang bisa membesarkan kita bukan orang lain, tapi DIRI KITA SENDIRI dan bekerjasama dengan orang lain! Horas bangso Batak!!
« Last Edit: August 30, 2008, 02:12:19 PM by sura » Logged
daniel
Newbie
*
Posts: 1



View Profile WWW
« Reply #3 on: September 17, 2008, 01:06:18 AM »

Sebenarnya aku gak pernah mengikuti perkembangan mengenai rencana pembentukan propinsi tapanuli ini...

Aku gak terlalu peduli dengan mau dibentuk atau tidak propinsi baru ini, karena bagiku semua hal ada positif negatifnya, tinggal masing-masing kita yang memandangnya bagaimana...

Contoh, okelah toba dan sekitarnya 10-20 tahun mendatang jadi berkembang pesat, menghasilkan pendapatan daerah yang tinggi, dan bisa meningkatkan kesejahteraan warganya, sudah pasti banyak infrastruktur baru yang akan dibangun, dan bukan tidak mungkin semuanya itu menuju ke kehancuran sumber daya alam seperti hutan, perbukitan, dll. Bagiku, kalau aku pulang ke Toba, aku ingin melihat daerah yang dapat menyejukkan mata dan menenangkan hatiku, hijau di daratan, biru di danau, biru langit di angkasa, dll. Apakah semua itu dapat dipertahankan jika propinsi baru ini terbentuk? Kalau memang demikian, aku akan mendukungnya. Tapi jika tidak, tentu saja aku bakal menolak pembentukan propinsi baru ini.

Bayangkan, di tahun 1998, di daerah rumahku, tanjung sari, jalan setiabudi, medan, rumah masih dapat dihitung dengan mudah, sawah masih terbentang luas di belakang rumah, bahkan untuk main layangan aja gak perlu mikir bakal nyangkut di tiang atau kabel listrik. Sepuluh tahun setelahnya, tepatnya tahun ini, 2008, semua itu sudah musnah. Di belakang rumah sudah dibangun jalan baru, ring road. Akibatnya semua sawah dibabat habis, dijadikan jalan dengan lebar lebih dari 20 meter. Akibatnya lagi, semua pinggiran jalan tidak ada lagi yang berwarna hijau, yang ada hanya bangunan beton tempat usaha.

Aku gak menginginkan ini. Tapi itulah akibat dari kemajuan pembangunan infrastruktur. Apakah toba akan seperti ini juga?

Itulah pendapat pribadiku. Mengenai mas pujakesuma yang membahas mengenai kaum minoritas ini pendapatku: justru sepertinya anda yang ingin menang sendiri, soal kolusi itu harus anda maklumi, kalau negara kita tidak mengenal namanya Kolusi, pastilah sekarang nilai $1 USD hanya setara dengan Rp 1.000,- bahkan mungkin lebih rendah. Soal ini saya sangat setuju dengan appara Sura, bahwa hampir semua daerah di Indonesia membawa nilai-nilai keagamaan atau kesukuannya masing-masing. Jadi... sekali lagi mungkin yah, mohon "tahu diri" aja hehehe... Aku sendiri gak suka jadi kaum minoritas, tapi apa mau dikata dan diperbuat, kalau memang minoritas gak dianggap ya diam ajalah, toh kalo ribut2 malah nambah2 masalah. Sekian dariku. Cheesy
Logged

sura
Newbie
*
Posts: 18


View Profile
« Reply #4 on: September 17, 2008, 04:37:00 AM »

Itu implikasi dari yang namanya "pembangunan" appra, mau tidak mau, cepat atau lambat pembangunan berbanding lurus dengan perubahan, tinggal perubahan yang bagaimana yang kita mau. Kalau perubahan untuk merusak Danau Toba dan semua budaya batak, kita pasti tolak!

Masalah minoritas, dalam hukum tata negara dan konstitusi Indonesia tidak dikenal kata minoritas, dan seharusnya memang kita tidak merasa sebagai minoritas. Tapi sistemlah yang memunculkan dan memposisikan kita sebagai minoritas
Logged
yaya
Newbie
*
Posts: 4


View Profile Email
« Reply #5 on: January 18, 2009, 10:44:38 PM »

Mnurut q tu bisa diperbaiki,,,
dalam hal yang lain,,,
pernah ga Dengar Muchtar pakpahan???

Tahun 2008 yang lwat dia mengadakan suatu kegiatan dalam Peningkatan Pariwisata danau Toba,
tapi apa yang kita lihat saat ini?Huh

Kalo kerabat semua ada di saat itu,
kita pasti kagum akan dia,
tapi sekarang apa???
malah jadi benci,

Kami juga ga mau Danau toba itu hilang dari dunia Pariwisata,,,
di satu sisi kami orang sidikalang yang sangat peduli akan danau toba,
anda bis lihat Tao Silalahi yang saat ini kami coba membangun demi menjaga kelestarian Danau toba ini,,,,

bagaimana dengan yang Lain?Huh
Logged
hotlend_m
Newbie
*
Posts: 2


View Profile
« Reply #6 on: January 20, 2009, 12:21:33 AM »

Saya Setuju Sekali dengan Judul Diatas...Oleh Pujakesuma..
Bila Pemerinatahan TOBASA menjadi TOBAMAS 2010, sebagai Kabupaten Religius, sebaiknya Harus Berpartisipasi Dalam Acara2 Rohani dengan Lintas Agama, karena Setiap Acara tsb pastinya memberikan pemikiran positif untuk bisa diadakan di Kabupaten Tobasa.
Merujuk Judulnya: MAU KEMANA TOBA SAMOSIR...ini juga menjadi pertanyaan di benak saya, karena akhir2 ini saya mendengar Seleksi CPNS di Kab. Tobasa tidak transparan, tidak ada dimuat dalam Media Lokal, dan ada dalam satu keluarga bisa masuk sampai 3 orang, jelas ini menurutsaya perlu dipertanyakan..apakah benar2 murni Hasil Seleksi Tersebut melalu ujia Kemampuan Calon PNS atau ada unsur Uang Pelicin...Kalau hal ini benar2 terjadi di Kab. Toba Samosir, jangan berharap TOBAMAS akan terwujud bahkan menjadi TOBA BESIKARAT, SDM nya tidak dapat menghadapai kemajuan jaman dan teknologi informasi saat ini.
Untuk Puja kesuma..apakah lae/saudara mendengra hal yang saya kemukakan diatas...Kalau yah..harapan saya tolong di Informasikan ke LSM TOBASA Coruptwatch..

Terima kasih
________________________________________________________________________________________
https://www.klikrupiah.com/index.php?ref=hotlend_m


« Last Edit: January 20, 2009, 12:35:39 AM by hotlend_m » Logged
Ale-ale
Newbie
*
Posts: 1


View Profile
« Reply #7 on: February 03, 2009, 10:38:17 AM »

Horas....

Maaf.... saya TIDAK SETUJU kalau disebut2 TOBASA sebagai Kabupaten Religius, karena tidak semua masyarakat punya pemikiran yang luas, jgn sampai ada yang beranggapan bahwa TOBASA adalah Kabupaten yang Agamis karena mayoritas penduduknya menganut agama kristen, dimana hewan babi dapat berjalan lalu lalang didepan rumah, sehingga disejajarkan dengan Aceh yang menyandang predikat Serambi Mekah, akhirnya dapat menimbulkan chaos....
Sejak dulu TOBASA adalah Kabupaten yang majemuk, transparan dan terbuka bagi siapa saja.
Contoh, kita sebagai bangsa Indonesia bebas menggunakan bahasa daerahnya masing2 di Kabupaten TOBASA, apalagi bangsa China.
Tapi coba kita perhatikan di Pulau Jawa, 99% bangsa Cina yang tinggal disana tidak tahu bahasa hokian, karena apa... tentu karena ada batasan dari penduduk setempat, mereka tidak dapat bebas memakai bahasanya baik di lingkungannya, di sekolah bahkan di rumah, yang berujung dengan mati suri.
Padahal kita tahu di Pulau Jawa diagung2kan kata TEPO SELIRO...
Tidak demikian dengan TOBASA...yang dikenal dengan budaya keras...

Kalau mas PUJAKESUMA mengangkat topik MAU KEMANA TOBASA DIBAWA, saya kira kita sebagai manusia yang normal punya progres hidup masing2... tentu progres itu semakin maju, berkembang, mandiri dan sejahtera, begitu pula dengan TOBASA... dia ingin lebih eksis lagi dibanding kabupaten2 yang lain.
Tapi maaf... topik ini memberi kesan yang pesimistis.... seakan2 TOBASA sudah mengalami penyakit yang komplikasi pada stadium 4.

Jadi kita tidak bisa melihat TOBASA pada satu titik yang lemah... tetapi harus kompleks... tahukah kita berapa PAD TOBASA, devisa yang dihasilkan TOBASA dari sektor pariwisata dan HPH yang dikeluarkan pemerintah pusat Huh
Apakah itu sebanding dengan pemerataan pembangunan di TOBASA Huh

Lihat jalan mulus yang membentang mulai dari Kabupaten Gunung Kidul sampai Kabupaten Pacitan, apa sumber yang didapat pemerintah pusat dari sana... hanya singkong...

Menurut saya topik yang tepat adalah MAU APA TOBASA bukan MAU KEMANA, karena TOBASA butuh ekstra perhatian dari pemerintah sebagai salah satu daerah yang sangat2 potensial untuk dikembangkan dalam menambah cadangan devisa negara.

Mauliate  Wink
Logged
Pages: [1]
Print
Jump to:  

Majalah Luar Negri Gratis

Powered by SMF 1.1.7 | SMF © 2006-2007, Simple Machines LLC

Media Online Bersama Toba
Perihal BersamaToba | Arsip | Iklan Toba | Donasi
Maintenance by Web Tech Development